Jumat, 22 April 2022

 

Nama: Kristina Yonda Nia

NIM: 20200606110

 

  • 1.      Saya ingin membuat sebuah klinik Fisioterapi  berkerjasama dengan Rumah Sakit Besar dan membuat poduk-produk seperti kinesio taping.
  • 2.      Perencanaan:

                               a.       Kualitas Untuk klinik saya akan mendirikan klinik yang sesuai standar operasional seperti tempat dan alat-alat yang digunakan. Untuk produk seperti kinesio taping saya akan membuat taping yang hight quality dengan harga terjangkau dan pastinya tidak membuat iritasi, dimana kebanyakan taping yang beredar saat ini banyak membuat para penggunanya menjadi iritas.

                              b.       Pemilihan lokasi saya akan membuka klinik didaerah yang masih jarang orang untuk mendirikan klinik fisioterapi, saya akan membuat promosi sehingga masyarakat yang tadinya belum mengenal fisioterapi menjadi tertarik untuk berkunjung  ke klinik fisioterapi tentu saja dengan keluhan yang sesuai dengan penanganan fisioterapis.

                               c.    Perancang proses dan kapasitas untuk klinik saya akan menggunakan  alat-alat terbaru dan sesuai SOP dan berkerjasama dengan dokter yang memiliki pengalaman dan sesuai dengan SOP. Untuk kinesio taping saya akan promosikan untuk para atlet dan pasien yang terkena cidera seperti oedema.

 

 

Jumat, 01 April 2022

 

Misi

  • 1.      Menjadi seorang yang Taat akan Tuhan.
  • 2.      Menjadi seorang yang sayang akan keluarga.
  • 3.      Dapat menentukan prioritas hidup dalam setiap keadaan.
  • 4.      Menjadi seorang yang pekerja keras dan menjadi berkat bagi orang lain.
  • 5.      Menjadi orang yang berwawasan luas serta dikenal sebagai fisioterapis yang berkompeten.

Tujuan

  • 1.      Rajin beribadah, supaya apa yang kita kerjakan selalu dalam bimbingan Tuhan yang Maha Esa.
  • 2.   Menjadi keluarga yang harmonis dan dapat membahagiakan orang tua supaya setiap harinya penuh sukacita didalam kehidupan sehari-hari.
  • 3.  Dalam keadaan apapun harus dapat memilah dan memilih jalan mana yang harus diambil, tanpa terpengaruh hal-hal buruk yang membuat karir dan prioritas kita turun.
  • 4.    Berkerja keras sesuai porsi untuk mendapatkan upah yang seimbang,  supaya dapat membatu makhluk ciptaan Tuhan yang kurang beruntung seperti: hewan dijalanan, tumbuhan yang hamper punah dan orang terlantar.
  • 5.    Memiliki pengetahuan yang tinggi, supaya dapat mengaplikasikan apasaja yang kita dapat dalam setiap pembelajaran supaya dapat dikenal banyak orang dengan prestasi.

Rabu, 27 Juni 2018

APAKAH ITU FISIOTERAPI?
Menurut KEPMENKES 1363,Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang  ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi.
Fisioterapis secara khusus memandang tubuh dan kebutuhan potensi gerak merupakan pusat penentuan diagnosis dan strategi intervensi dan konsiten dengan bentuk apapun dimana praktek fisioterapi dilakukan.
Bentuk pelayanan Fisioterapi akan sangat bervariasi dalam hubungannya dengan dimana Fisioterapi bekerja maupun berkenaan dengan promosi, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan kesehatan
APAKAH YANG DIKERJAKAN FISIOTERAPI
Fisioterapi mengenali dan memaksimalkan potensi gerak yang berhubungan dengan lingkup promosi, prevensi, penyembuhan dan pemulihan.
Fisioterapi ikut dalam interaksi antara Fisioterapis, pasien atau klien, keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan dalam proses pemeriksaan potensi gerak dalam upaya penegakan goal dan tujuan pengobatan yang disepakati dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan Fisioterapi yang unik
Di sebutkan dalam KEPMENKES 1363 Pasal 12
Fisioterapis dalam melaksanakan praktik fisioterapi berwenang untuk melakukan ;
a.         Asesmen fisioterapi yang meliputi pemeriksaan dan evaluasi
b.         Diagnosa fisioterapi
c.         Perencanaan fisioterapi
d.         Intervensi fisioterapi
e.         Evaluasi/re-evaluasi/re-asesmen.
Asesmen
Asesmen termasuk pemeriksaan dan evaluasi pada perorangan atau kelompok, nyata atau yang berpotensi untuk terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan atau kondisi kesehatan lain dengan cara pengambilan perjalanan penyakit (history taking), skreening, test khusus, pengukuran dan evaluasi dari hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesa dalam sebuah proses pertimbangan klinis.
Pemeriksaan terhadap individu atau kelompok dengan mengambil, gangguan aktual atau potensial, keterbatasan fungsional, cacat, atau kondisi lain kesehatan oleh :
·         History Taking
·         Screening (penyaringan)
·         Penggunaan Test Khusus
·         Tindakan
Evaluasi hasil pemeriksaan melalui analisisdan sintesis dalam proses penalaran klinis.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari pemeriksaan dan evaluasi dan menyatakan hasil dari proses pertimbangan/pemikiran klinis, dapat berupa pernyataan keadaan disfungsi gerak, dapat meliputi/mencakup kategori kelemahan, limitasi fungsi, kemampuan atau ketidakmampuan.
Menunjukkan / mengekpresikan adanya disfungsi gerak dan dapat mencangkup
        Gangguan / kelemahan (impairment),
        Limitasi Fungsi (functional limitations),
        Ketidakmampuan (disabilities ),
        Sindroma ( syndromes ).
Perencanaan
Perencanaan dimulai dengan pertimbangan kebutuhan intervensi dan biasanya menuntun kepada pengembangan rencana intervensi, termasuk hasil sesuai dengan tujuan yang terukur yang disetujui pasien/klien, famili atau pelayan kesehatan lainnya. Dapat menjadi pemikiran perencanaan alternatif untuk dirujuk kepada pihak lain bila dipandang kasusnya tidak tepat untuk fisioterapi
Intervensi
Intervensi di-implementasikan dan dimodifikasikan untuk mencapai tujuan yang disepakati dan dapat termasuk penanganan secara manual; peningkatan gerakan; peralatan fisis, peralatan elektroterapuetis dan peralatan mekanis; pelatihan fungsional; penentuan bantuan dan peralatan bantu; instruksi dan konseling; dokumentasi dan koordinasi, komunikasi.
Intervensi dapat juga ditujukan pada pencegahan ketidak-normalan (kelemahan), keterbatasan fungsi, ketidakmampuan dan cidera, termasuk juga peningkatan dan pemeliharaan kesehatan , kualitas hidup, kebugaran segala umur dan segala lapisan masyarakat.
Perencanaan Prosedur dari intervensi harus mengacu kepada :
         Hasil assesment ( pemeriksaan dan evaluasi ), serta diagnosa.
         Prognosis yang berhubungan peningkatan kondisi
         Rencana asuhan Fisioterapi, misalnya intensitas, frekwensi, durasi, urutan dll.
         Selain itu dipertimbangkan komplesitas dan berat-ringannya kondisi klinis
         mempertimbangkan kemampuan pasien/klien
         Harapan pasien/klien, famili
Dalam melakukan intervensi sendiri, fisioterapi harus melakukan :
         Koordinasi, Komunikasi, dan Dokumentasi
          Pasien / clien harus melakukan yang diinstruksikan oleh fisioterapi
          Prosedur Intervensi
Fisioterapi terlibat dalam program-program skreening dan pencegahan, pendidikan kesehatan maupun penelitian. Fisioterapis dapat menjadi konsultan pada lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan dan sosial yang berkenaan dengan perawatan kesehatan.
Secara luas, tindakan fisioterapis adalah tanggung jawab fisioterapis secara individu, yang disertai oleh keputusan profesi mereka yang tidak dapat dikontrol atau dikompromikan oleh pegawai, orang dari profesi lain atau lainnya.
Sebagai pembatasan otonomi profesi yang benar, profesi fisioterapi mempunyai tanggung jawab yang berkesinambungan untuk  mengaturan diri (self regulating)


STANDAR PENDIDIKAN FISIOTERAPI
Pendidikan untuk menjadi fisioterapis dipusatkan pada universitas atau studi lain setingkat universitas, minimum 4 tahun independen dan diakreditasi sebagai standar sarjana penuh secara hukum dan diakui profesinya.

STANDAR PRAKTEK FISIOTERAPI
  1. Pernyataan misi, maksud dan tujuan
  2. Perencanaan pengorganisasian
  3. Kebijakan prosedur
  4. Administrasi
  5. Pengelolaan Anggaran
  6. Peningkatan kuantitas asuhan
  7. Ketenagaan
  8. Pengembangan Staf
  9. Penataan sarana dan prasarana
  10. Kolaborasi multidispilner
Standar Asesmen yaitu pemeriksaanpada perorangan atau kelompok, nyata atau yang berpotensi untuk terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan atau kondisi kesehatan lain dengan cara pengambilan perjalanan penyakit (history taking), skreening, test khusus, pengukuran dan evaluasi dari hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesa dalam sebuah proses pertimbangan klinis. Dalam standar Asesmen ditetapkan pula 24 pengukuran yang dilakukan untuk proses pengumpulan data.
Standar Diagnosa berupa labelmengambarkan keadaan multi dimensi pasien yang dihasilkan dari pemeriksan dan evaluasi dan merupakan hasil dari alasan-alasan klinis yang dapat menunjukkan adanya  disfungsi gerak dan dapat mencangkup gangguan/kelemahan(impairment), Limitasi Fungsi (functional limitations), Ketidakmampuan (disabilities ),Sindroma ( syndromes), Mulai dari sistem sel, dan biasanya pada level sistem gerak dan fungsi.
Standar Perencanaan dimulai dengan pertimbangan kebutuhan intervensi dan biasanya menuntun kepada pengembangan rencana intervensi, termasuk hasil sesuai dengan tujuan yang terukur yang disetujui pasien/klien, famili atau pelayan kesehatan lainnya. Dapat menjadi pemikiran perencanaan alternatif untuk dirujuk kepada pihak lain bila dipandang kasusnya tidak tepat untuk fisioterapi.
Standar Intervensi yaitu Intervensi di-implementasikan dan dimodifikasikan untuk mencapai tujuan yang disepakati dan dapat termasuk penanganan secara manual; peningkatan gerakan; peralatan fisis, peralatan elektroterapuetis dan peralatan mekanis; pelatihan fungsional; penentuan bantuan dan peralatan bantu; instruksi dan konseling; dokumentasi dan koordinasi, komunikasi.
Standar evaluasi yaitu keharusan untuk evaluasi kembali meliputi hasil dan kriteri penghentian tindakan.
Standar Dokumentasi, Kordinasi dan komunikasi yaitu sistem administrasi yang menjamin pasien/klien menerima kualitas pelayanan yang tepat, komprehensif, efisien dan efektif mulai dari kedatangan sampai selesai. Koordinasi adalah kerja sama semua bagian yang tersangkut dengan pasien/klien Komunikasi adalah adanya pertukaran informasi baik dengan pasien/klien maupun sesama pemberi pelayanan. Dokumentasi adalah pencatatan yang dibuat selama pasien/klien mendapat asuhan Fisioterapi. 
Pendidikan pasien adalah proses pemberian informasi, pendidikan, atau pelatihan kepada pasien/klien/famili. Instruksi berkaitan dengan kondisi saat ini, rencana asuhan, pentingnya asuhan, transisi perubahan, Faktor resiko, dll. Fisioterapis bertanggung jawab atas instruksi-instruksi.

KODE ETIK FISIOTERAPI
Garis Besar Kode Etik Fisioterapi Indonesia adalah :
  1. Menghargai hak dan martabat individu.
  2. Tidak bersikap diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada siapapun yang membutuhkan.
  3. Memberikan pelayanan profesional secara jujur, berkompeten dan bertanggung jawab.
  4. Mengakui batasan dan kewenangan profesi dan hanya memberikan pelayanan dalam lingkup profesi fisioterapi.
  5. Menjaga rahasia pasien/klien yang dipercayakan kepadanya kecuali untuk kepentingan hukum/pengadilan.
  6. Selalu memelihara standar kompetensi profesi fisioterapi dan selalu meningkatkan pengetahuan/ketrampilan.
  7. Memberikan kontribusi dalam perencanan dan pengembangan pelayanan untuk meningkatkan derajat kesehatan individu dan masyarakat

Jumat, 22 Juni 2018

Partner atau musuh
Hallo ketemu lagi emm lama ga buat blog ni emm jadi gue pengen sedikit cerita ini real yah jadi gini gue punya pasangan entah sebagai artner atau musuh soalnya kerjaan kita kelai terus memang susah ya punya partner yang kek gitu emm gue kira sih dia dewasa ehh rupanya ampun deh cin padahal kelainya kita tu sepele dari hal chat mantan,ga ngabarin,dan badmood tiba2 aww ampun deh ntah bodoh nya gue masih mau aja sama dia bukan gue sih yamg mau tapi kasian aja hehe sebenar nya gue sangat2 jenuh dengan model pacaran yang kek gini tapi ya mau gimana lagi bayangin aja padahal lo tau keburukan dia yang sangat2 bego tapi lo masih aja mau sama dia tolol memang lo aduh gue ngerasa gue orang tertolol didunia kenapa padahal gue tau sifat dia dan kenangan2 nya dia tapi masih aja lo pertahanin aduh bego banget sih lo please sebenarnya gue bener2 udah capek pacaran ya tapi rasa kasian dan rasa iba gue terlalu tinggi ya begini deh hasilnya bodoamat lah punya pacar rasa jomblo emezing binggo eww sekian curhatan hati wanita bego

Kamis, 07 Desember 2017

Apa saja yang bisa direhabilitasi oleh fisioterapi?

Fisioterapi dapat membantu semua kelompok usia dengan berbagai macam kondisi kesehatan.

1. Cedera sendi

Cedera sendi adalah salah satu masalah paling umum pada pasien fisioterapi. Untuk meredakan nyeri, pijatan dan terapi panas dan dingin dapat membantu. Pasien dengan masalah sendi tulang belakang dapat meningkatkan kekuatan inti mereka untuk melindungi intervertebral disc.

2. Arthritis

Pengobatan untuk osteoarthritis adalah pijatan dan penggunaan modalitas seperti ultrasound dan panas. Hidroterapi (latihan dalam air hangat) juga membantu dalam mengurangi nyeri arthritis dan meningkatkan mobilitas sendi.

3. Masalah pada punggung

Pengobatan fisioterapi untuk masalah punggung mencakup pijatan, terapi titik pemicu dan akupuntur, dan juga penggunaan corrective sports tape untuk memperbaiki postur.
  • Penyakit kardiovaskular
  • Stabilitas inti tubuh
  • Diabetes
Dengan mengikuti latihan fisioterapi, metabolisme tubuh dipercepat dan glukosa akan bergerak masuk ke dalam sel dengan lebih mudah, yang membantu mengurangi kadar gula darah.

4. Masalah fleksibilitas

Fisioterapi juga membantu mengembalikan atau meningkatkan fleksibilitas dan mengurangi nyeri.

5. Inkontinensia

Inkontinensia adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan buang air. Banyak pasien merasa malu untuk mengangkat topik ini dan karenanya terus menderita dalam diam. Namun, banyak penderita yang bisa dibantu secara signifikan, dengan pendekatan non-bedah yang ditawarkan oleh fisioterapis. Pengobatan dapat mencakup: latihan dasar panggul khusus dan saran terkait kebiasaan gaya hidup seperti makan dan minum.

6. Pencegahan cedera

Meskipun pasien menemui fisioterapis setelah mereka terkena cedera, banyak dari cedera ini yang sebenarnya bisa dicegah jika mereka datang sebelum terkena cedera tersebut.

7. Gangguan muskuloskeletal dan multiple sclerosis

Banyak pasien mendapatkan kekuatan dan kemampuan untuk kembali ke fungsi normal dari pengobatan fisioterapi. Fisioterapis memiliki berbagai macam cara untuk mengobati nyeri dan teknik-teknik ini bisa mencakup mobilisasi sendi, peregangan otot, terapi titik pemicu, pengobatan dengan panas dan akupuntur.

8. Sakit leher dan sakit kepala

Fisioterapi sangatlah membantu dalam mengobati sakit kepala yang berkaitan dengan disfungsi tulang belakang servikal. Namun, pengobatan ini memerlukan diagnosis yang cermat dan pengobatan fisioterapi akan tergantung pada kondisinya.

9. Osteoporosis

Penelitian telah menunjukkan bahwa jenis latihan ini dapat menjaga kepadatan tulang, yang meningkatkan kekuatan dan menstimulasi pertumbuhan tulang pada penderita osteoporosis.

10. Sindrom carpal tunnel

Pengobatan untuk pasien penderita sindrom carpal tunnel biasanya akan dianjurkan setelah diagnosis awal. Fisioterapi mencakup teknik anti-inflamasi seperti penggunaan es dan pijatan,  dan latihan peregangan dan penguatan untuk mengembalikan fungsi dan mengurangi nyeri.

ALAT-ALAT FISIOTERAPI DAN KEGUNAANNYA 

 

1. SHORTWAVE DIATHERMY (SWD)

Pengertian SWD
Short Wave Diathermy (SWD) adalah Suatu alat terapi yang menggunakan pemanasan yang pada jaringan dengan merubah energi elektromagnet menjadi energi panas. Short Wave Diathermy biasa disebut dengan Diathermy gelombang pendek. Berfungsi untuk memanaskan jaringan dan pembuluh darah dengan gelombang pendek, sehingga peredaran darah menjadi lancar.

 
Tujuan Pemberian SWD
Memperlancar peredaran darah, mengurangi rasa sakit, mengurangi spasme otot, membantu meningkatkan kelenturan jaringan lunak, mempercepat penyembuhan radang.
Penempatan/susunan elektroda
• Kontraplanar ; paling baik, penentrasi panas kejaringan lebih dalam, dipermukaan berlawanan dengan bagian terapi.
• Koplanar : elektroda berdampingan disisi sama dgn jarak elektroda adequat, pemanasan superficial, jarak antara ke2 elektroda >> lebar drpd elektroda
• Cross fire treatment ; ½ terapi diberikan dgn elektroda 1 posisi, ½ terapi diberikan elektroda posisi lain, pemanasan jaringan dlm seperti untuk organ pelvis
• Monoplanar : elektroda aktif diatas satu lesi, bila yang dituju local & dangkal

Indikasi SWD
Kondisi peradangan dan kondisi sehabis trauma (trauma pd musculoskeletal), adanya keluhan nyeri pd sistem musculoskeletal (kodisi ketegangan, pemendekan, perlengketan otot jaringan lunak), persiapan suatu latihan/senam (untuk gangguan pada sistem peredarah darah)

Kontraindikasi SWD
Keganasan, kehamilan, kecendrungan terjadinya pendarahan, gangguan sensibilitas, adanya logam di dalam tubuh, lokasi yang terserang penyakit pembuluh darah arteri.

Teknik aplikasi SWD
Pre pemanasan alat 5-10 menit, jarak antara elektroda dengan pasien 5-10 cm/1 jengkal, durasi 15-30 menit, intensitas sesuai dengan aktualitas patologi, posisikan pasien senyaman mungkin, terbebas dari pakaian dan logam, tes sensibilitas, pasang elektroda, pasien tidak boleh bergerak, intensitas dipertahankan sesuai dgn toleransi pasien.

2. MICROWAVE DIATHERMY (MWD)


Pengertian MWD
Suatu aplikasi terapeutik dengan menggunakan gelombang mikro dlm bentuk radiasi elektromagnetik yg akan dikonversi dalam bentuk dengan frekuansi 2456 MHz dan 915 MHz dengan panjang gelombang 12,25 arus yang dipakai adalah arus rumah 50 HZ, penentrasi hanya 3 cm,
salah satu modalitas fisioterapi yang bermanfaat untuk mengurangi nyeri, MWD cocok untuk jaringan superfical dan struktur artikuler yang dekat dengan permukaaan kulit. Salah satu tujuan utama dari terapi MWD adalah untuk memanaskan jaringan otot sehingga akan memberi efek relaksasi pada otot dan meningkatkan aliran darah intramuskuler.
Tujuan
1. Membantu meningkatkan sirkulasi limpatik dan sirkulasi darah lokal.
2. Membantu relaksasi otot dan meningkatkan elastisitas jaringan ikat yang letak kedalamannya kurang lebih 3 cm.
3. Membantu meningkatkan proses perbaikan jaringan secara fisiologis.
4. Membantu mengurangi rasa nyeri pada otot dan sendi.


Indikasi MWD
Selektif pemanasan otot (jaringan kolagen), spasme otot (efektif untuk sendi Inter Phalangeal, Metacarpal Phalangeal dan pergelangan tangan, Rheumathoid Arthritis dan Osteoarthrosis), kelainan saraf perifer (neuralgia neuritis)

Kontraindikasi MWD
Adanya logam, gangguan pembuluh darah, pakaian yang menyerap keringat, jaringan yang banyak cairan, gangguan sensibilitas, neuropathi (timbul gangguan sensibilitas dan diabetes melitus), infeksi akut, transqualizer (alat pada pasien dengan gangguan kesadaran), sesudah rontgen (konsentrasi EM berkelebihan), kehamilan, saat menstruasi.

Efek fisiologis yang ditimbulkan dari pemberian MWD
Terjadinya perubahan panas ; yang sifatnya lokal jaringan yang meningkatkan metabolisme jaringan lokal, meningkatkan vasomotion sehingga timbul homeostatik lokal yang akhirnya menimbulkan vasodilatasi. Perubahan panas secara general yang menaikkan temperatur pada daerah lokal.

Teknik aplikasi MWD:
• Persiapan alat, tes alat, pre pemanasan 5-10 menit, jarak <10cm dari kulit • persiapan pasien : bebaskan dari pakaian dan logam, posisikan pasien senyaman mungkin, tes sensibilitas, jarak 5-10 cm, durasi 20-30 menit. alat 2456MHz, frekuensi terapi 3-5 x/minggu, intensitas 50-100 watt (toleransi pasien), dosis intensitas ditentukan oleh aktualitas patologi (aktualitas rendah : thermal, aktualitas sedang : subthermal, aktualitas tinggi : a thermal)

3. ULTRASOUND (US)

Pengertian
Mesin ultrasound adalah modalitas fisioterapi yang pemanfaatannya dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi atau rendah. Gelombang suara ini dasalurkan di sekitar jaringan dan pembuluh darah, gelombang suara tersebut menembus ke otot sehingga otot menjadi hangat dan otot relaks, oleh karena itu gelombang ultrasound ini digunakan untuk perawatan otot yang mengalami ketegangan dan kekakuan.
Tujuan
Efek dari pemanasan ini berpengaruh pada pelebaran pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi darah sehingga membantu prose penyembuhan. Fisioterapis juga dapat mengatur frekuensi dari gelombang ultrasound sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengurangi peradangan.
  • Indikasi
Contoh kasus yg termasuk indikasi Ultrasound : Rheumathoid Arthrosis, Osteoarthrosis Genu, Hernia Nucleus Pulposus, Low Back Pain, spasme cervical, tennis elbow, frozen shoulder.
  • Kontra indikasi
Jaringan yang lembut (mata, ovarium, testis, otak), jaringan yang baru sembuh, jaringan/granulasi baru, kehamilan, pada daerah yang sirkulasi darahnya tidak adekuat, tanda-tanda keganasan, infeksi bakteri spesifik.
Teknik Aplikasi US : Sebelum terapi : lakukan assesment, tes sensibilitas, lokalisasi daerah terapi, tentukan metode (langsung/tidak langsung), beri penjelasan kepada pasien.  Persiapan alat : Persiapan pasien Penatalaksanaan US: Berikan gel pada daerah yang akan diterapi, Ratakan gel dgn tranduser, nyalakan alat, Timer ditentukan dari = luas area dibagi dengan luas ERA, Intensitas ditentukan oleh aktifitas patologi :
  • aktivitas tinggi : dosis rendah (1-1,5 W/cm²)
  • aktivitas sedang : dosis sedang (1,5-2 W/cm²)
  • aktivitas rendah : dosis tinggi (2-3 W/cm²)

4. Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS)

Pengertian TENS
> Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS) merupakan suatu cara penggunaan energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif untuk merangsang berbagai tipe nyeri
> Pada TENS mempunyai bentuk pulsa : Monophasic mempunyai bentuk gelombang rectanguler, trianguler dan gelombang separuh sinus searah; biphasic bentuk pulsa rectanguler biphasic simetris dan sinusoidal biphasic simetris; pola polyphasic ada rangkaian gelombang sinus dan bentuk interferensi atau campuran.
> Pulsa monophasic selalu mengakibatkan pengumpulan muatan listrik pulsa dalam jaringan sehingga akan terjadi reaksi elektrokimia dalam jaringan yang ditandai dengan rasa panas dan nyeri apabila penggunaan intensitas dan durasi terlalu tinggi.

Tujuan pemberian TENS
Memeilhara fisiologis otot dan mencegah atrofi otot, re-edukasi fungsi otot, modulasi nyeri tingkat sensorik, spinal dan supraspinal, menambah Range Of Motion (ROM)/mengulur tendon, memperlancar peredaran darah dan memperlancar resorbsi oedema

Frekuensi Pulsa
• Frekuensi pulsa dapat berkisar 1 – 200 pulsa detik.
• Frekuensi pulsa tinggi > 100 pulsa/detik menimbulkan respon kontraksi tetanik dan sensibilitas getaran sehingga otot cepat lelah
• Arus listrik frekuensi rendah cenderung bersifat iritatif terhadap jaringan kulit sehingga dirasakan nyeri apabila intensitas tinggi. Arus listrik frekuensi menengah bersifat lebih konduktif untuk stimulasi elektris karena tidak menimbulkan tahanan kulit atau tidak bersifat iritatif dan mempunyai penetrasi yang lebih dalam.

Penempatan Elektroda
• Di sekitar lokasi nyeri : Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab metode ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri tanpa memperhatikan karakter dan letak yang paling optimal dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri
• Dermatome :Penempatan pada area dermatome yang terlibat, Penempatan pada lokasi spesifik dalam area dermatome, Penempatan pada dua tempat yaitu di anterior dan di posterior dari suatu area dermatome tertentu
• Area trigger point dan motor point

Indikasi TENS
Kondisi LMNL(Lower Motor Neuron Lesion) baru yang masih disertai keluhan nyeri, kondisi sehabis trauma/operasi urat saraf yang konduktifitasnya belum membaik, kondisi LMNL kronik yg sdh terjadi partial/total dan enervated muscle, kondisi pasca operasi tendon transverse, kondisi keluhan nyeri pada otot, sebagai irritation/awal dari suatu latihan, kondisi peradangan sendi (Osteoarthrosis, Rheumathoid Arthritis dan Tennis elbow), kondisi pembengkakan setempat yang belum 10 hari

Kontra Indikasi TENS
Sehabis operasi tendon transverse sebelum 3 minggu, adanya ruptur tendon/otot sebelum terjadi penyambungan, kondisi peradangan akut/penderita dlm keadaan panas

Prosedur TENS
• Tingkat analgesia-sensoris : frekuensi 50-150 Hz, durasi pulsa <200 (60-100) mikrodetik • Tingkat analgesia untuk rasa nyeri : frekuensi 150 Hz, durasi pulsa >150 mikrodetik
• Persipan pasien (kulit harus bersih dan bebas dari lemak, lotion, krim dll), periksa sensasi kulit, lepaskan semua metal di area terapi, jangan menstimulasi pada area dekat/langsung di atas fraktur yg baru/non-union, diatas jaringan parut baru, kulit baru.
5. PARAFIN BATH

Pengertian
Pengobatan panas superficial dgn modalitas rendaman hangat parafin.

Tujuan
Preliminary terhadap metoda intervensi lain (mobilisasi sendi, massage), memperlancar peredaran darah, mengurangi rasa sakit, menambah kelenturan jaringan perifer, lingkup gerak sendi, dipilih untuk tangan dan kaki.
Indikasi
Terapi pada bagian superfisial tubuh dengan panas sangat baik untuk mereduksi nyeri dan kekakuan, untuk menghindari sapsme otot, meningkatkan range of motion sendi, serta mempercepat proses penyembuhan dengan cara meningkatkan aliran darah sehingga peredaran darah menjadi lancar dan kebutuhan nutrisi pada jaringan yang berkaitan terpenuhi.

Parafin bath indikasi terhadap:
Reduksi nyeri dan spasme otot
• Efek panas dari parafin dapat digunakan sebelum dilakukan latihan penguluran otot untk mereduksi nyeri.
• Spasme otot menimbukan rasa nyeri serta berkurangnya range of motion sendi, namun hal ini dapat dikurangi dengan memberikan panas sebagai media terapi.
• Pasca fractur
• Pasca trauma
• Sprain dan strain
• Arthritis kronis


Kontra Indikasi
Pada dasarnya kontra indikasi pada terapi dengan menggunakan suhu atau temperatur adalah gangguan sensibilitas.

Kontra indikasi untuk terapi parafin bath dapat dituliskan sebagai berikut:
• Gangguan sensibilitas.
• Luka terbuka.
• Parafin tidak boleh digunakan pada luka terbuka karena dapat menyebabkan luka bakar pada jaringan yang bersangkutan.

Metode Aplikasi
> Metode Deep : mencelupkan kaki/tangan kedalam cairan parafin bath -> terbentuk permukaan parafin padat dan tipis yang meliputi kulit -> tarik kembali -> ulang 8-10x -> sampai terbentuk sarung tengan tebal (mengisolasi bagian tubuh terhadap kehilangan panas) -> bungkus dengan handuk kering untuk mempertahankan panas -> lama 15-20 menit -> setelah itu sarung tangan parafin dilepas
> Metode immersion : mencelupkan tangan/kaki secara terus-menerus kedalam cairan parafin -> terbentuk sarung tangan pada sekitar kulit -> lama 20-30 menit -> lebih efektif meningkatkan temperatur jaringan tapi resiko luka bakar
> Metoda breshing : dengan menggunakan kuas -> untuk area yang tidak dijangkau (pinggang, hip, pada regio yang besar)
6. TRAKSI
Pengertian
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot.
Tujuan
Tujuan dari traksi adalah untuk menangani dislokasim atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan. Ada dua tipe utama dari traksi : traksi skeletal dan traksi kulit, dimana didalamnya terdapat sejumlah penanganan.
Prinsip Traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh, tungkai, pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan yang disebut dengan countertraksi. Tahanan dalam traksi didasari pada hokum ketiga (Footner, 1992 and Dave, 1995). Traksi dapat dicapai melalui tangan sebagai traksi manual, penggunaan talim splint, dan berat sebagaimana pada traksi kulit serta melalui pin, wire, dan tongs yang dimasukkan kedalam tulang sebagai traksi skeletal (Taylor, 1987 and Osmond, 1999).
Traksi dapat dilakukan melalui kulit atau tulang. Kulit hanya mampu menanggung beban traksi sekitar 5 kg pada dewasa. Jika dibutuhkan lebih dari ini maka diperlukan traksi melalui tulang. Traksi tulang sebaiknya dihindari pada anak-anak karena growth plate dapat dengan mudah rusak akibat pin tulang.
Indikasi traksi kulit diantaranya adalah untuk anak-anak yang memerlukan reduksi tertutup, traksi sementara sebelum operasi, traksi yang memerlukan beban 5 kg. Akibat traksi kulit yang kelebihan beban di antaranya adalah nekrosis kulit, obstruksi vaskuler, oedem distal, serta peroneal nerve palsy pada traksi tungkai.
Indikasi traksi kulit diantaranya adalah untuk anak-anak yang memerlukan reduksi tertutup, traksi sementara sebelum operasi, traksi yang memerlukan beban 5 kg. Akibat traksi kulit yang kelebihan beban di antaranya adalah nekrosis kulit, obstruksi vaskuler, oedem distal, serta peroneal nerve palsy pada traksi tungkai.
Kontra indikasi dari pemberian traksi lumbal menurut Dellito (1990) dikutip oleh Cameron (1999) adalah : (1) kondisi trauma akut atau inflamasi (2) hipermobilitas atau instabilitas (3) hipertensi yang tidak terkontrol (4) fraktur (5) osteoporosis (6) spondilosis (7) selama proses terapi keluhan nyeri bertambah sehingga dalam pengaplikasian traksi lumbal terapis harus selalu melakukan monitoring.
Traksi tulang dilakukan pada dewasa yang memerlukan beban > 5 kg, terdapat kerusakan kulit, atau untuk penggunaan jangka waktu lama. Kontratraksi diperlukan untuk melawan gaya traksi, yaitu misalnya dengan memposisikan tungkai lebih tinggi pada traksi yang dilakukan di tungkai.
Teknik dalam aplikasi traksi ada dua cara yaitu statik dan intermiten. Dalam penelitian ini prosedur penggunaan tehnik aplikasi traksi lumbal adalah sebagai berikut :
a.       Penentuan alat
Menggunakan traksi elektrik dengan perangkat semi computer digital.
b.      Posisi pasien
Posisi yang umum adalah tidur terlantang dalam sedikit paha fleksi 85 derajat dan eksorotasi 10-15 derajat serta lutut dalam keadaan fleksi 85-90 derajat (Thamrin, 1991 dikutp oleh Hartini, 2007)
c.       Alat pengikat
Menggunakan alat pengikat punggung berupa sabuk (pelvic belt) yang diikatkan di atas krista iliaka dan dihubungkan ke mesin traksi serta fiksasi pada tubuh bagian atas untuk menghindari bagian atas untuk tertariknya tubuh ke bawah akibat tarikan lumbal.
Sekian penjelasan dari alat-alat terapi fisioterapi. Sebenarnya, masih ada banyak lagi aat-alat yang sering dipergunakan oleh fisioterapis seperti infrared, tapi cukup sekian dulu ya untuk selebihnya akan ditambah jika ada kesempatan lain (alasan pemalas :v)
Terima kasih dan semoga bermanfaat.